Memiliki pemain dengan bakat hebat dan status bintang tentu menjadi dambaan setiap tim; baik itu sebuah klub ataupun tim nasional sebuah negara. Seorang pemain dengan kemampuan hebat memang seringkali mampu mengangkat kualitas permainan sebagai sebuah tim. Meski di sisi lain juga memberi sebuah kelemahan bagi tim tersebut. Banyak tim dengan sosok pemain bintang sebagai pusat permainannya berhasil dikalahkan dengan cara mematikan pemain sentral tersebut. Keberhasilan mematikan pergerakan dan peran pemain bintang di sebuah tim yang mengandalkannya seringkali berbuah manis berupa kemenangan. Oleh karena itu kepemilikan pemain bintang dengan skill individu luar biasa tidak selalu menjadi jaminan bagi sebuah tim untuk meraih sukses atau menjadi tidak terkalahkan.

Berandai – andai jika tim nasional Indonesia memiliki pemain dengan kehebatan sekelas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo akan menjadi sebuah mimpi yang indah. Meraih prestasi besar berkat keberadaan pemain bintang berbakat hebat di tim sepertinya tidak mustahil bagi sebuah tim dengan pemain sehebat Messi dan Ronaldo di dalamnya. Hanya saja; masalah tim nasional Indonesia tidak hanya terletak pada kurangnya pemain dengan bakat hebat. Masih ada masalah – masalah lain yang butuh solusi guna memajukan sepakbola Indonesia yang sempat mengalami stagnasi dan bahkan kemunduran akibat hukuman dari FIFA berupa pembekuan PSSI, larangan menyelenggarakan kompetisi liga dan larangan tampil di pertandingan internasional.

Peluang Pemain Bintang Mengangkat Pamor Sepakbola Dan Negara Indonesia

Harus diakui bahwa keberadaan pemain bintang dapat mengangkat citra atau pamor sebuah negara. Terlebih lagi jika pemain bintang tersebut sukses mengangkat prestasi sebuah klub ataupun tim nasional yang ia bela. Akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika sebuah negara memiliki pemain bintang yang dikenal secara global. Hal yang sama pernah dialami oleh negara Liberia; negara di Afrika tersebut merupakan salah satu negara Afrika yang jarang membuat orang tertarik. Ketertarikan akan negara Liberia kemudian muncul ketika seorang George Weah muncul sebagai sosok bintang sepakbola. Kesuksesan Weah bersama AC Milan membawa berkah tersendiri bagi Liberia yang kemudian lebih dikenal dunia. Hal serupa juga sempat dialami oleh Kroasia setelah berdiri menjadi negara merdeka. Sosok Zvonimir Boban dan Davor Suker merupakan duta negara kecil tersebut. Kesuksesan Kroasia di turnamen Piala Dunia saat diperkuat keduanya membuat keberadaan negara kecil tersebut semakin dikenal dan diakui oleh publik dunia.

Jika Indonesia memiliki sosok pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi; dipastikan Indonesia akan dikenal sebagai negara penghasil pemain bintang dunia. Ketertarikan dunia pada Indonesia akan bertambah pada bidang sepakbola dan bukan hanya pada konflik dalam negeri serta terorisme. Sosok pemain bintang sepakbola akan menjadi duta bangsa. Daya tarik mereka pada media internasional secara tidak langsung juga akan mengarahkan sorotan pada negara Indonesia. Selain itu; pemain bintang dengan kekayaan yang luar biasa besar seringkali juga memberi dampak besar dari berbagai sisi. Bagaimana seorang Cristiano Ronaldo memberi bantuan pada Martunis Sarbini seorang anak korban tsunami di Aceh menunjukkan kedermawanan bintang sepakbola dapat membantu merubah nasib orang lain. Martunis kemudian menjadi anak angkat Ronaldo dan mendapat kesempatan berlatih bersama Sporting Lisbon meski kemudian dikabarkan memilih untuk menjadi polisi daripada melanjutkan karir sebagai pemain sepakbola saat kembali ke Indonesia. Sebuah kenyataan yang dapat digunakan untuk menilai cara pandang seseorang terkait karir dan peluang sukses di dunia sepakbola Indonesia. judi bola online

Harus diakui bahwa Indonesia belum pernah memiliki pemain bintang yang mampu mengangkat prestasi dan juga pamor negara di dunia internasional. Berbeda dengan negara – negara dengan kultur sepakbola kuat yang mampu melahirkan pemain – pemain hebat; Indonesia sangat jarang melahirkan pemain bintang dengan pamor dan prestasi yang mengkilat. Kebanyakan pemain muda berbakat dari Indonesia tidak berhasil berkembang menjadi pemain hebat yang meraih sukses internasional ataupun regional. Irvan Bachdim dan Andik Vermansyah merupakan 2 pemain Indonesia yang sempat merasakan bermain di liga sepakbola negara asing dalam beberapa tahun terakhir. Hanya saja keduanya gagal bersinar saat merumput di luar Indonesia.

Masalah Sepakbola Indonesia Bukan Sekedar Tidak Adanya Pemain Bintang

Keberadaan pemain bintang sekelas Ronaldo dan Messi mungkin memang akan mampu mengangkat prestasi dan performa sebuah tim; namun sepakbola Indonesia memiliki masalah – masalah yang cukup rumit. Masalah – masalah yang harus diselesaikan jika ingin sepakbola Indonesia berkembang dan mampu bersaing dengan negara – negara dengan kultur sepakbola yang lebih kuat. Masalah sepakbola Indonesia ada dari tingkat suporter, pengembangan pemain muda, pengelolaan klub serta liga hingga masalah organisasi sepakbola nasional serta tim nasional. Ada masalah dari hulu hingga hilir di kancah sepakbola nasional; namun masalah – masalah tersebut tetap memiliki peluang untuk diselesaikan.

Salah satu alasan bagaimana Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi mampu tumbuh dan berkembang menjadi pemain hebat adalah ketersediaan organisasi pembinaan pemain muda di klub – klub Eropa. Ronaldo dibesarkan oleh Sporting Lisbon; sedangkan Barcelona membawa Messi dari Argentina sejak berumur belasan untuk dibina dan juga diberikan solusi atas masalah kesehatan yang ia alami. Komitmen klub untuk membina pemain muda dan kepemilikan rencana jangka pendek, menengah dan panjang sejak masa pembinaan pemain hingga pengelolaan skuad utama menjadi sesuatu yang belum dimiliki klub – klub di Indonesia. Sangat jarang ada klub Indonesia yang mengikat pemain dengan kontrak jangka panjang. Kebanyakan klub hanya mengontrak pemain untuk 1 musim dan kembali berburu pemain saat musim berikutnya akan dimulai. Bahkan pihak PSSI masih sangat jarang menjalin kerja sama berupa kontrak jangka panjang untuk manajer atau pelatih yang menangani tim nasional. Sistem bongkar pasang pelatih dengan tujuan meraih prestasi bagus secara instan justru mempersulit tim nasional menemukan karakter dan gaya bermain yang sesuai.

Pembinaan pemain muda di tingkat klub dan ketersediaan kompetisi resmi berdasar jejang umur merupakan 2 hal yang masih butuh banyak perbaikan di Indonesia. Messi dan Ronaldo merasakan pembinaan di akademi sepakbola yang memiliki kultur, kekuatan pendanaan hingga dukungan basis suporter yang kuat. Kebanyakan klub sepakbola Indonesia hidup dari sponsor; namun gagal mengoptimalkan pendapatan dari penjualan tiket pertandingan serta penjualan cinderamata. Klub – klub Eropa mampu mengelola dukungan suporter untuk memperoleh pemasukan besar dari penjualan tiket dan cinderamata. Sebuah praktek pengelolaan klub dan basis massa yang pantas ditiru oleh klub – klub di Indonesia.

Masalah lain sepakbola Indonesia ada di dalam lapangan. Perilaku pemain di lapangan dan kepemimpinan wasit masih menjadi 2 aspek yang harus ditingkatkan di lapangan hijau. Jika saja ada Ronaldo dan Messi di klub Indonesia; kedua pemain tersebut dipastikan akan sering mendapat pelanggaran keras dari pemain – pemain lawan. Jika kita berandai – andai Indonesia memiliki pemain seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo; maka bukan tidak mungkin prestasi tim nasional dan citra sepakbola Indonesia akan meningkat. Namun jika kita berandai – andai Messi dan Ronaldo lahir dan menjalani pendidikan sepakbola di Indoneia; maka bukan tidak mungkin keduanya gagal meraih sukses seperti yang bisa kita lihat bersama saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *